Mengenal Candi-Candi di Dieng

Kelompok candi arjuna

Kelompek candi arjuna terletak di belakang TELAGA balik kambang dan di belakang selatan kelompek candi Dwarawati .
Kelompok candi ajuna terdiri dari 5 buah candi yang tersusun dalam dua Deret mengarah ke utara-selatan, Deret sebelah timur terdiri dari emap bangunan candi yg semuany menghadap ke barat, yaitu candi arjuna,candi serikandi,candi puntadewa dan senbadra,Sedangkan deret sebelah barat hanya tingal satu candi ,yaitu candi semar yang menghadap ke timur berhadapan dengan candi arjuna.

kompek candi arjuna

Candi arjuna

Dari segi arsitek, candi arjuna dapat di katakana candi yang paling tua Di antara candi-candi di komplek candi dieng,hal ini di ketahui dari tangga masuk ke bilik candi di pasang menempel pada kaki candi,sedangkan pada candi_candi lainya di dieng.tangga masuk di tempatkan menjorok ke dalam kaki candi,ini berarti penempatan tangga masuk ke candi arjuna dapat di katakan masih memperhatikan fungsi kaki candi sebagae agunan,Sebaliknya cara penempattan kaki pada candi lain,dapat di artikan dapat mengurangi peran kaki sebagai sebagai lantai,cara-cara terahin ini yang di terapkan hingga masa ahir Indonesia-hindu di jawa timur,

Tanda-tanda lain yang menunjukan pertanggalan candi arjuna di dasarkan pada atabnya,atap candi arjuna yang bertingkat tiga ,dengan ketingian masing-masing tingkat dibuat pendek,padahal kecendrungan perkembangan candi arjuna yang ditulis dalam bahasa jawa kuno.perasati tersebut menujukan angak tahun 731c atau 809M,sedangkan 12 prasasti lain telah ditemukan di kelompleks candi dieng menujukan angka tahun lebih muda dan tahun yang termuda adalah 1132c atau 1210M

Selain hal-hal tersebut di atas .beberapa hal yang perlu di perhatikan adalah DENAH candi berbentuk bujur sangkar berukuran 6x6m.dinding candi di hiasi oleh 5 buah relung,2 di samping kanan dan kiri pintu bilik dan 3 relung di masing-masing sisi tembok candi,dua relung petama ,di perkirakan di tempati arca MAHKALA dan NANDISWARA.relung sebelah selatan merupakan tempat arca MAHAKALA dan NADISWARA.relung sebelah selatan merupapakan tempat arca DURGAMAHISASURAMARADINI, berbeda relung di tembok belakang adalah bekas tembok arca GANESYA dan relung tembok utara sebagai tempat arca AGASTYA,Saat ini acara-acara tersebut tidak di temukan lagi.hiyasan kalamakal selain pada ambang pintu,juga pada masing-masing permukan relung.di bawah relung tembok sebelah utara terdapat cerat berbentuk kepala makara,yang berfungsi sebagai JALADWARA (atau saluran pembuangan air)yang di hubungkan kedalam bilik candi.
Hal ini merupakan salah satu keistimewan candi arjuna ,kegunaan saluran tersebut untuk membuang air pada waktu upacara yang diselenggarakan dalam bilik.karena bagian situs itu adalah melakukan siraman air pada linggayoni.
Pada bilik candi sekarang tinggal yoni yang telah patah ceratnya dan tenpa lingga.

Candi Semar

Candi Semar di depan Candi Arjuna dengan arah hadap ke timur. Berbeda dengan candi-candi lain di Kelompok Candi Arjuna, Candi Semar mempunyai denah persegi panjang yang berukuran 3,5 m x 7 m. Dilihat dari pemasangan tangga masuk ke bilik, candi ini diduga sejaman dengan Candi Arjuna, kaki candi sebagai lantai tampak tebal dan tangga masuk ke bilik sama dengan Candi Arjuna yaitu menempel pada sisi lantai. Dengan demikian lantai atau kaki masih berfungsi sebagai lantai bangunan. Oleh karena itulah masa pendirian Candi Semar sangat mungkin bersamaan dengan Candi Arjuna. Bentuk bangunan Candi Semar berbeda dengan candi-candi sekitarnya, sehingga menimbulkan pertanyaan. Bentuk bangunan semacam Candi Semar sangat langka. Suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan dari Candi Semar sebagai candi yang bercirikan Candi Jawa Tengah adalah Kala-Makara yang menghiasi ambang pintu bilik dan sisi pintu. Tampak disini Kala berbentuk raksasa dengan mulut yang tanpa rahang bawah. Sedangkan Makara berkepala binatang air yang berbelalai gajah mengarah ke samping kanan dan kiri pintu bilik.

Candi Puntadewa

Candi Puntadewa terletak pada deretan ketiga dari Candi Arjuna dan Candi Srikandi. Denah bangunan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 4,4 m x 4,4 m. Arsitektur candi ini menunjukkan perkembangan dari Candi Arjuna. Dilihat dari penempatan tangga masuk ke bilik Candi Puntadewa telah berbeda dari Candi Arjuna, yaitu tangga dipasang menjorok kedalam kaki candi. Namun bentuk kakinya masih sama, antara bagian bawah dan atas dipisahkan oleh bidang-bidang berpanil. Dengan perbedaan pada cara pemasangan tangga itu Candi Puntadewa dianggap dibangun setelah Candi Arjuna. Pondasi Candi Puntadewa dibuat jauh lebih tinggi daripada Candi Arjuna. Apakah ini upaya untuk tujuan teknis ? Diduga tindakan ini bertalian dengan kondisi tanah yang senantiasa lembab terkadang basah sehingga dibutuhkan pondasi yang lebih tinggi. Dilihat dari atapnya, sama dengan Candi Arjuna yang bujur sangkar. Tetapi telah terjadi upaya peninggian atap. Didasarkan pada hiasannya, Candi Puntadewa merupakan candi yang paling indah. Relung-relung yang menghiasi tubuh candi tampaknya mendapatkan perlakuan yang istimewa. Lima relung yang dahulunya berisi arca-arca pendamping utama Siwa, meskipun kini telah kosong, tetapi masih kelihatan memiliki asesori yang sangat indah. Bagian atas relung tepat diatas kepala arca terdapat hiasan kanopi dan bagian bawah diberi lapik (landasan) arca yang tebal serta menonjol. Pebedaan yang menonjol dengan Candi Arjuna adalah penempatan relung. Relung Candi Arjuna ditempatkan dengan cara membuat lubang pada tembok, sedangkan pada Candi Puntadewa relung justru menjadi ciri perkembangan baru. Sebagai candi dengan gaya Jawa Tengah, candi ini juga dihiasi dengan Kala-Makara yang diukir pada ambang atas relung tubuh candi, atap, serta pintu bilik. Kala digambarkan dengan ciri yang sama seperti candi lain yang tanpa rahang bawah. Yang agak lain adalah Makaranya, gambaran binatang laut yang berbelalai gajah telah distilir dalam bentuk ukiran sulur-sulur.

Candi Srikandi

Candi Srikandi merupakan bangunan nomor tiga pada deret Kelompok Candi Arjuna, yaitu terletak sebelah selatan Candi Arjuna atau di antara Candi Arjuna dan Candi Puntadewa. Denah candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 3,84 x 3,84 m. Cara penempatan tangga masuk ke bilik masih sama dengan Candi Puntadewa. Demikian juga tingkat atapnya masih berdenah bujur sangkar. Tetapi bentuk kaki telah mengalami perubahan, kalau pada Candi Puntadewa di antara bagian-bagian kaki Candi Srikandi itu disisipi oleh pelipit mendatar. Bentuk semacam ini rupanya telah mengaburkan kaki candi sebagai bidang lantai. Kalau Candi Srikandi merupakan candi yang lebih muda dari Candi Puntadewa, maka yang aneh adalah relung pada tubuh candi. Dua relung pada kanan-kiri pintu yang ditempati oleh arca Mahakala dan Nandiswara tidak ada. Pada ketiga sisi tembok terdapat relung semu, sehingga berlawanan dengan perkembangan relung kemudian yang justru mengarah semakin menonjol. Oleh karena itu Candi Srikandi termasuk candi yang istimewa dalam arsitekturnya.
Pada tokoh-tokoh yang digambarkan pada relung semu tersebut, biasanya tokoh-tokoh yang digambarkan adalah dewa-dewa pendamping utama Siwa. Namun pada candi ini digambarkan justru dewa-dewa dalam agama hindu, yaitu Brahma, Siwa dan Wisnu. Ini merupakan hal yang tidak biasa dalam candi-candi Hindu di Indonesia. Relief dewa pada relung semu sisi timur ditempati relief Dewa Brahma, relung semu sisi timur ditempati relief Dewa Siwa dan pada sisi utara terdapat gambaran kala-makara. Demikian juga kala-makara pada ambang dan sisi pintu batu-batuannya sudah tidak ada.

Candi Sembadra

Bangunan Candi Sembadra terletak paling selatan di antara Kelompok Candi Arjuna. Bila didasarkan pada penyusunan komponen, maka Candi Sembadra adalah yang paling muda di antara Kelompok Candi Arjuna, bahkan paling muda dari seluruh kompleks Candi Dieng. Cara penempatan tangga masuk ke bilik masih sama dengan Candi Srikandi. Namun tangga ini tidak menjorok masuk kedalam kaki candi, melainkan kedalam pondasi yang telah ditinggikan.
Pondasi langsung menopang tubuh candi. Bila memperhatikan candi-candi lain di Dieng, keadaan tersebut kiranya tidak mengherankan.
Denah candi maupun tingkat atap mirip dengan Candi Gatotkaca dan Candi Dwarawati yang berbentuk palang (ukuran 3,2 x 13,2 m). Kedua candi itu masih memiliki kaki, sehingga Candi Gatotkaca dan Candi Dwarawati berkembang lebih dahulu.
Dengan tidak adanya kaki pada candi Sembadra, maka pertanggalan candi ini dianggap termuda di antara candi-candi di kompleks Candi Dieng.
Bentuk palang pada denah bangunan maupun tingkat atap, terjadi karena kebutuhan penonjolan relung. Dengan adanya ketiga relung yang menonjol ditambah dengan penonjolan serambi pintu mengakibatkan denah menjadi berbentuk seperti ini. Demikianjuga denah tingkat atap yang berbentuk palang, terciptanya karena perubahan relung menjadi kesatuan bangunan dan bukan lagi hanya sebagai kelengkapan saja.
Sangat disayangkan bahwa kondisi bangunan ini malah tidak berkesan sebagai candi yang paling muda, karena bahan bangunan yang berkualitas buruk ditambah dengan asesori yang telah banyak hilang. Ketiga relung yang kini telah kosong, dibuat dengan sederhana dan sempit. Hiasan kala-makara yang biasa didapatkan pada ambang atas dan sisi relung tidak lengkap. Sebab yang ada hanya kala tanpa dilengkapi makara. Kala-makara hanya terdapat pada pintu bilik saja.

Kelompok Candi Gatotkaca

candi gatutkaca

Kelompok Candi Gatotkaca terletak di sebelah barat Telaga Balekambang dan di kaki Bukit Pangonan dan menghadap ke timur. Perjalanan menuju ke candi ini cukup singkat karena letaknya cukup dekat dengan kelompok Candi Arjuna. Kelompok Candi Gatotkaca sebenarnya terdiri dari 6 bangunan, yaitu Candi Setyaki, Candi Petruk, Candi Antareja, Candi Nakula-Sadewa, Candi Nalagareng dan Candi Gatotkaca.
Di antara keenam bangunan tersebut hanya tinggal satu bangunan saja yang berdiri yaitu Candi Gatotkaca. Pada waktu ditemukan candi ini dalam keadaan rusak, namun karena batu-batuannya masih banyak yang tersisa maka pada tahun 1979 – 1981 telah dipugar oleh Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, namun tidak dapat seluruhnya karena tidak semua batu berhasil ditemukan kembali. Berdasarkan arsitekturnya Candi Gatotkaca dibangun setelah Candi Srikandi. Hal ini diketahui dari cara penempatan tangga, kaki, jumlah relung, denah bangunan, dan denah atap. Penempatan tangga masuk ke bilik masih sama dengan Candi Srikandi, demikian juga bentuk kakinya. Jumlah relung pada tubuh candi sama dengan Candi Srikandi, yaitu tiga buah pada ketiga sisi tembok. Relung-relung ini masing-masing ditempati oleh Arca Durgamahisasuramardini, Ganesha dan Agastya. Namun ketiganya kini telah kosong. Nandiswara juga tidak terdapat seperti halnya Candi Srikandi. Namun demikian ketiga relung tersebut dibuat begitu menonjol. Bahkan relung-relung ini telah menjadi bangunan tersendiri yang bersatu dengan bangunan candi. Relung bukan lagi suatu bangunan yang sedikit menonjol pada tembok tubuh candi, seperti halnya Candi Puntadewa. Akibat dari perkembangan relung yang menjadi bangunan tersendiri itu, denah candi menjadi berbentuk palang.
Dari hal ini timbul pernyataan kenapa relung yang telah berubah bentuk ini menjadi petunjuk bahwa Candi Gatotkaca (dan Candi Dwarawati) selangkah lebih maju dari pada Candi Srikandi. Pertanyaan tersebut dapat dijawab bahwa pembuatan relung dengan kondisi demikian lebih sulit, karena memerlukan banyak tambahan bahan dari pada sekedar menambah sedikit menonjol atau melubangi tembok. Sedangkan komponen-komponen lain seperti tersebut di atas pada Candi Gatotkaca (dan Candi Dwarawati) masih sama dengan Candi Srikandi. Oleh karena itu cukup beralasan untuk menempatkan Candi Gatotkaca (dan Candi Dwarawati) sebagai candi yang lebih muda dari Candi Srikandi.
Sesuai dengan candi langgam Jawa Tengah, Candi Gatotkaca juga memiliki kala-makara yang khas. Kala berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah, sedangkan makara tampaknya telah juga distilir menjadi ukiran sulur-sulur.

Kelompok Candi Bima

candi bima dieng

Dari Candi Gatotkaca kunjungan dapat dilanjutkan menuju Candi Bima yang terletak sebelah selatan Candi Gatotkaca. Sekarang kelompok candi ini tinggal satu bangunan yang masih tersisa yaitu Candi Bima. Candi Bima menghadap ke timur dengan denah candi berbentuk palan, ukuran 4,93 x 4,34 m.
Rupanya agak sulit menempatkan Candi Bima ini kedalam tahapan masa pendirian candi-candi di Dieng, karena Candi Bima adalah candi yang mempunyai tipe berbeda dengan candi-candi lain di sekitarnya. Perkiraan tahapan hanya bisa diketahui pada posisi setelah Candi Srikandi. Hal ini diketahui dari cara penempatan tangga masuk ke bilik yang menjorok ke dalam memotong kaki candi serta pondasi yang dibuat tinggi. Denah bangunan tinggi atap yang berbentuk palang, dan jumlah relung hanya tiga buah, telah menempatkannya pada posisi itu, sedangkan bagian-bagian lain sulit, karena perbedaan tipe itu dapat mempengaruhi berubah tidaknya komponen-komponen lain.
Yang menarik dari Candi Bima ini adalah bagian atap. Seperti dikatakan di muka bahwa atap Candi Bima sangat mirip dengan bentuk Shikara. Selain itu pada bidang-bidang tingkatnya dihiasi dengan relung-relung yang melengkung dengan kepala tokoh dewa di dalamnya (KUDU). Pendapat yang mengatakan bahwa struktur atap Candi Bima mirip bentuk Shikara, diperkuat dengan adanya kepala menara sudut yang berbentuk seperti mangkuk yang ditangkupkan. Di india bentuk semacam ini dikenal dengan Amalaka dan menghiasi puncak atap candi.
Dengan demikian puncak atap Candi Bima yang kini telah hilang, kemungkinan besar juga berbentuk semacam itu. Mengenai kala-makara yang diukir pada relung, tampak dikerjakan semakin dekoratif, sehingga bentuk aslinya juga semakin tidak kelihatan. Namun demikian dari unsur yang digambarkan masih dapat diketahui bahwa kala berlanggam Jawa Tengah, karena dibuat tanpa rahang bawah.

Candi Dwarawati

Kelompok Candi Dwarawati terletak paling utara di antara candi-candi di dataran tinggi Dieng dan didirikan di Bukit Prahu. Kunjungan ke candi ini dapat dilakukan dalam perjalanan kembali dari Candi Bima dan Kawah Sikidang. Kelompok Candi Dwarawati sebenarnya terdiri dua buah, yaitu Candi Dwarawati dan Candi Parikesit. Sebelum menjadi seperti sekarang keduanya telah runtuh berserakan. Kemudian pada tahun 1955 mulai dilakukan perbaikan dan pada tahun 1980 Candi Dwarawati telah direstorasi secara total. Namun mengingat tidak semua batu asli ditemukan, hasilnya hanya terbatas sehingga atap tingkat satu. Kelanjutan bentuk atap hingga puncaknya sampai kini belum dapat direstorasi sama sekali oleh sebab kondisi batu asli sebagian besar belum ditemukan.
Candi Dwarawati mempunyai denah berbentuk palang dengan ukuran 5,3 x 5,3 m. Mengenai tahap pendiriannya masih sulit ditentukan karena candi ini sangat mirip dengan Candi Gatotkaca.
Sehingga kemungkinan masa berdirinya juga tidak jauh berbeda dengan Candi Gatotkaca. Ciri tersebut tampak pada cara penempatan tangga yang menjorok kedalam kaki candi berpelipit mendatar. Kemudian juga pondasi yang tinggi. Selain itu denah bangunan serta tingkat atap yang berbentuk palang. Jumlah relung yang hanya tiga buah pada ketiga sisi tembok menambah kesamaan ciri antara kedua candi tersebut.
Perbedaan antara kedua Candi Dwarawati dan Candi Gatotkaca terdapat pada dua unsur. Tepian atap Candi Dwarawati lebih tebal dan miring, sedangkan pada Candi Gatotkaca tipis saja. Perbadaan lain lagi tapi justru sangat menarik ialah pemahatan pilar-pilar tubuh candi. Pilar dipahat seperti tiang kayu yang dipotong oleh umpak mirip sekali dengan Candi Puntadewa. Mengapa bentuk tersebut muncul kembali, setelah melewati candi-candi lain belum diperoleh jawabannya.
Kemudian yang juga perlu di sampaikan adalah disamping kanan kiri relung dihias dengan bentuk pilaster-pilaster, mahkota pilaster berupa hiasan makara yang distilir dalam bentuk pola-pola daun. Apa yang telah dibicarakan di atas adalah pandangan perkembangan bangunan candi berdasar pada arsitekturnya. Sedangkan pertanggalan pendirian tiap-tiap candi telah ditemukan oleh E.B.Vogler yang mengelompokan candi-candi di Jawa Tengah berdasarkan pada perkembangan bentuk-bentuk kala-makara dari periodisasi yang dibuatnya candi-candi di Dieng ini dapat disusun dalam tiga kelompok yaitu :

  1. Candi Arjuna, Candi Semar dan Candi Gatotkaca dimaksudkan dalam periode ke III tahun 760 – 812 M.
  2. Candi Puntadewa termasuk periode ke IV tahun 812 – 838 M.
  3. Candi Sembadra dan Candi Srikandi dimasukan pada periode V tahun 928 sampai abad XVI (Subroto, op. cit : 57).

Selain bangunan candi ditemukan pula sisa-sisa bangunan lain yang tidak difungsikan untuk keperluan praktis. Namun sekarang tinggal puing-puing yang pada umumnya berdenah empat persegi panjang dan tersebar di dataran sekitar kelompok Candi Arjuna.

Bangunan-bangunan ini dalam kaitan dengan kepurbakalaan Hindu dikenal dengan Dharmacala. Kemungkinan bangunan-bangunan tersebut diperuntukan bagi para peziarah yang datang ke Dieng sebagai tempat tinggal para pendeta dan pengelola bangunan candi.
Selanjutnya terdapat bangunan berupa teras-teras batu yang berlokasi di bukit Bantarawi, sebelah tenggara Kawah Sikidang dan sebelah selatan makam Siterus. Balok-balok batu disusun membentuk undak-undak / tangga naik mengarah utara-selatan dengan ukuran panjang 125,5 dan lebar 1,04 m. Bangunan tersebut oleh penduduk disebut AndhaBudha. Artinya tangga Budha yang menghubungkan dataran tinggi Dieng dengan daerah lain di sekitarnya. Penyebutan Budha bukan mengarah pada agama Budha, namun merupakan sebutan oleh rakyat kebanyakan terhadap peninggalan masa Indonesia-Hindu.

Selain itu ditemukan juga bekas saluran air yang disebut Gangsiran Aswatama atau Babahan Aswatama, adalah saluran yang dibuat Aswatama sebagai jalan untuk membunuh Pandawa pada akhir perang Bratayuda. Terlepas dari cerita tersebut Gangsiran Aswatama adalah saluran air untuk mengalirkan yang menggenangi dataran tinggi Dieng, ditempat kelompok Candi Arjuna berada.